Museum Diponegoro Yang harus dikunjungi

Museum Diponegoro SASANA WIRATAMA
Sejarah telah mencatat bahwa Perang Diponegoro telah membuat Belanda kehilangan tidak kurang dari 15.000 tentara dan menghabiskan dana hingga 20 juta gulden. Bahkan jika tidak ditipu, kemungkinan Belanda akan terusir dari bumi Jawa bahkan Indonesia. Karena jasa beliau maka salah satu penghargaannya diberikan sebuah museum untuk mengenang perjuangan beliau. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan membidani lahirnya museum ini untuk kemudian diserahkan kepada ahli waris Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Kanjangteng Diponegoro.
Monumen Pangeran Diponegoro terdiri dari pahatan relief pada dinding pringgitan sepanjang 20 meter, tinggi 4 meter yang berkisah tentang keadaan Desa Tegalrejo yang damai dan tentram kemudian ada ontran-ontran Belanda yang menyebabkan perang Pangeran Diponegoro, sampai akhrinya Beliau di tipun dan ditangkan di di Magelang ketika hendak menuju Semarang.

6934080MUSEUM DIPONEGORO (foto: promojateng-pemprovjateng.com)

Isi Museum
Setelah masuk melalui gerbang utama terdapat pendopo yang dikelilingi oleh museum, tembok jebol, mess dan perpustakaan. Tembok jebol merupakan peninggalan Pangeran Diponegoro beserta sebuah Padasan (tempat berwudlu Pangeran) yang terletak di depan pendopo serta Batu Comboran (tempat makan dan minum kuda-kuda Pangeran) di bagian tenggara pendopo.

Barang-Barang koleksi:
– Dua senjata keramat yaitu keris luk 21 bernama Kyai Omyang karya empu yang hidup pada masa Kerajaan Majapahit dan pedang yang berasal dari Kerajaan Demak.
– Senjata-senjata asli laskar Diponegoro mulai dari senjata perang, koin, batu akik hingga alat rumah tangga.
– Berbagai senjata seperti tombak, keris, pedang, panah, “bandil” (semacam martil yang terbuat dari besi), “patrem” (senjata prajurit perempuan), hingga “candrasa” (senjata tajam yang bentuknya mirip tusuk konde) yang biasa digunakan “telik sandi” (mata-mata) perempuan.
– Alat rumah tangga buatan tahun 1700-an yang terbuat dari kuningan terdiri dari tempat sirih dan “kecohan”-nya (tempat mebuang ludah), tempat “canting” (alat untuk membatik), teko “bingsing”, bokor hingga berbagai bentuk “kacip” (alat membelah pinang untuk makan sirih).
– patung Ganesha berukuran kecil, tali Kuda untuk menarik kereta kuda pemberian HB VIII, sepasang patung Loro Blonyo serta sepasang lampu hias.
– seperangkat alat gamelan milik HB II buatan tahun 1752 berupa ketipung (gendang kecil) dan wilahan boning penembung yang terbuat dari kayu dan perunggu berwarna merah dan kuning.

m_diponegoro

Alamat:
Museum Sasana Wiratama / Monumen Diponegoro
Jl. HOS Cokroaminoto TR.III/430 Tegalrejo, Yogyakarta
Phone: +62 274 622668.

Jam Buka dan HTM
Hari Senin s/d Sabtu: Pukul 08.00 s/d 13.00
Hari Minggu: Tutup
Biaya Masuk: Sukarela
Data diolah dari yogyes.com

Cara Menuju ke Museum Diponegoro
Dari Bandara Adisucipto:
Naik trans Jogja lalu turun di halte SMP 11 kemudian naik bus jurusan Yogya-Tempel turun di tikungan sebelum pom bensin tegal rejo (lalu jalan kaki kuranglebih 100 meter). Atau naik pramek turun di stasiun tugu kemudian naik becak (RP.15.000an) atau naik ojek.
Dari Stasiun Tugu:
Keluar melalui pintu belakang kemudian naik becak (RP.15.000an) atau naik ojek.
Dari Terminal Giwangan:
Naik bus jurusan Yogya-Tempel turun di tikungan sebelum pom bensin tegal rejo (lalu jalan kaki kuranglebih 100 meter).
Dari Terminal Jombor:
Naik bus jurusan Yogya-Tempel turun di tikungan sebelum pom bensin tegal rejo (lalu jalan kaki kuranglebih 100 meter).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>